Empat Wilayah di Selatan Papua Dijadikan Model Pengelolaan Hutan Adat

Author : Ans K, October 9, 2015 at 19:16:55 WP, Editor : Angela Flassy

Merauke, Jubi – Perkumpulan Silva Papua Lestari yang merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berdiri sejak tahun 2010 silam dengan didukung oleh Reinforest Foundation Norwegia sedang mengembangkan skema hukum adat di wilayah Selatan Papua. Dimana terdapat empat wilayah kabupaten dengan lima suku besar dijadikan sebagai model pengelolaan hutan adat.

Demikian disampaikan Direktur Perkumpulan Silva Papua Lestari-Merauke, Kristian Ari dalam keterangan persnya kepada sejumlah wartawan di kantornya, Jumat (9/10/2015). Menurut dia, pengembangan skema hukum adat itu bertujuan melegalkan wilayah hutan adat secara hukum formal pemerintah, mengembalikan status hutan kepada masyarakat adat serta meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pemanfaatan hutan secara bijaksana berdasarkan budaya lokal.

Wilayah yang dibentuk menjadi hutan adat tersebut, jelas dia, terdapat di Kabupaten Boven Digoel, Mappi, Asmat dan Yahukimo yang didiami oleh Suku Korowai, Kombai, Kofojap, Ulakhin dan Kopkaka. Beberapa wilayah dimaksud sangat strategis dari aspek ekologis. Karena berada pada dua aliran sungai besar yakni Sungai Siret dan Sungai Ndairam.
Secara umum, lanjut dia, masyarakat di beberapa tempat itu, masih hidup secara tradisi dengan mengandalkan hutan sebagai rumah untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bertani, berkebun, berburu serta mencari ikan di sungai.

Diuraikan lagi, kurang lebih lima tahun, pihaknya telah bekerja melakukan pendampingan kepada masyarakat dan kegiatan sosialisasi program hutan adat bagi Suku Korowai dan Kombai di wilayah Kabupaten Mappi, khususnya di Kampung Basman dan Muui.

Sedangkan di Kabupaten Asmat, katanya, di Kampung Mabul, Baigun, Aviumabul, Bavemahol dan Ayak. Untuk Kabupaten Boven Digoel adalah di Kampung Yaniruma, Manggemahe, Yafuvla dan Senemburu. Sementara di Kabupaten Yahukimo, kegiatan berlangsung di Kampung Okmahol serta Burukmakot. Selain itu beberapa dusun (persiapan kampung;red) juga dilakukan sosialisasi kegiatan beberapa bulan lalu.

Lebih lanjut Kristian menjelaskan, berbagai program yang dijalankan atau dilaksanakan, menyesuaikan dengan pola hidup masyarakat orang asli Papua di kampung-kampung.

Beberapa program yang sedang dijalankan diantaranya, pengembangan tanaman karet serta beberapa jenis tanaman lain. Ketika menanam, tidak harus menebang hutan lagi. Tetapi kebun yang dibuka untuk ditanami pisang maupun nenas, dapat digunakan menanam karet setelah dipanen hasilnya.

“Saya sudah melakukan studi banding di orang Rimba di Jambi. Dimana, dari nenek moyangnya ketika membuka kawasan hutan menanam pisang maupun nenas, maka akan digunakan lagi menanam karet guna investasi jangka panjang,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Asisten Kepala Program Perkumpulan Silva Papua Lestari, Petrus Alberth Dewantoro Talubun. Dikatakan, budaya berkebun masyarakat secara tradisional tetap jalan. Tetapi ke depan nanti, ketika ada perubahan, disitulah mereka sudah mempunyai kebun karet, lada maupun gaharu yang bisa disadap serta diambil untuk dijual sekaligus mendatangkan nilai uang.

Ditambahkan, kawasan hutan yang sudah menjadi ‘sandaran’ hidup untuk berburu maupun mencari sumber kehidupan lain, tetap akan dijaga dan dilestarikan terus. (Frans L Kobun)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment