Diskusi IKPM AMK: Perempuan Papua Asal 3 Suku Ini Sedang Alami Histeresis Identitas

Sumber Berita: Tabloidjubi.com, Penulis : Admin MS | Rabu, 28 Januari 2015 14:03

Anggota IKPM-AMK Yogyakarta
Anggota IKPM-AMK Yogyakarta saat kegiatan Makrab. Foto: Dok. AMK

Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH — Perempuan asal 3 suku yang meliputi Aifat, Mare dan Karoon dinilai sedang mengalami histeresis identitas sebagai fenia bobot (perempuan sesungguhnya, bahasa Karoon). Krisis itu terjadi menyusul adanya sebagian besar perempuan masa kini yang lebih mengutamakan keinginan dari pada kebutuhan.

Hal itu dikemukakan dalam diskusi dengan topik “Perempuan AMK antara Harapan dan Kenyataan” yang dilakukan oleh Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Aifat, Mare dan Karoon (IKPM-AMK) Yogyakarta, di Asrama Tambrauw, Selasa (27/01/2015) malam.

Perempuan AMK nyatanya mengalami histeresis, kehilangan jati diri yang sebenarnya. Banyak fenomena pemalsuan jati diri berkedok perubahan penampilan dengan meluruskan rambut dan memutihkan kulit.

“Sekarang kapitalis membuat iklan-iklan kalau yang putih dan langsing itu cantik,” kata Maikel Ajoi mengawali diskusi.

Menurutnya, perempuan masa kini terjebak dalam permainan label kecantikan dari kapitalis melalui iklan-iklan yang selalu tampil bervariasi. Kata dia, kapitalis melihat manusia sebagai objek yang bisa diubah kapan saja semau mereka. Pernyataan tersebut diperkuat Willem Sedik berdasarkan pendapat Aristoteles yang melihat perempuan sebagai objek.

Peserta diskusi lain, Mery Kinho lebih menekankan akan pentingnya pengaktualisasian diri kaum hawa.

“Menurut hirarki kebutuhan Maslow, setelah mendapat kebutuhan pokok, perempuan akan mencari penerimaan diri dan penerimaan sosial untuk sampai pengakutalisasikan diri,” ungkapnya menambahkan.

Dirinya berharap perempuan AMK menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Lain lagi, Maria Baru melihat segala bentuk jajahan datang dengan cara yang berbeda-beda, sehingga diminta tidak terjebak demi menghargai kodrat sebagai perempuan dengan melaksanakan Fenia meroh (pendidikan adat bagi perempuan) di dalam keluarga dan masyarakat.

“Perempuan sendiri yang mau memberi diri untuk dijajah, jangan mau dijajah,” jelas Maria.

Sistem patriarki yang menjadi tradisi dalam tiga suku tersebut memberikan pengaruh dalam menghargai perempuan sebagai sosok yang semestinya dihargai. Perempuan Aifat, Mare dan Karoon sering kali salah memandang emansipasi dengan melupakan kodrat yang seharusnya menjadi tanggung jawab sebagai seorang perempuan.

“Emansipasi perempuan itu menguatkan perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak bukan tidak mau masak dan atur rumah tangga,” beber Isak Bofra.

Perempuan mengaktualisasikan diri dengan roh yang sebenarnya dari adat dan budaya, sehingga masa depan perempuan tergantung dari sikap kritis saat ini. (MC2/MS)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment