Chiang Mai, Univesitas Pegunungan Thailand dan Pengabdian Masyarakat Strategis

Satu hal menarik dari Konferensi ini ialah Pengabdian Masyarakat dari Universitas Chiang Mai sebagai universitas induk di pegunungan Thailand yang begitu jelas dan strategis. Misalnya dari satu laporan tentang pendampingan yang dilakukan. Misalnyua saya telah hadiri topik-topi seperti kerjasama Universitas dengan Petani Kopi setenmpat, laboratorium Nestle Singapura bekerjasama dengan Universitas Chiang Mai melakukan test kadar caffein, kandungan dan keunikan Kopi Pegunungan Thailand, kerjasama dengan Kementerian Perkebunan dan Kebun Botani Kerajaan untuk pengembangan Kopi Organik, mangga Organik dan pisang organik.

Dalam kerjasama ini Universitas Chang Mai menempatkan diri sebagia pembimbing dan sekaligus jembatan antara dunia usaha, dunia industri dengan para petani atau masyarakat. Sejumlah penelitian dilakukan dalam rangka membantu meningkatkan produk, yang dampaknya ialah meningkatkan pendapatan demi kesejahteraan masyarakat pegununagan Thailand.

Universitas Chiang Mai juga melakukan studi mendalam dan test leboratorium menyeluruh tentang jenis-jenis tanah di setiap kampung di mana ada tanaman kopi dan dari hasil test ini digalakkan berbagai varietas Kopi Arabica ditanam di kampung-kampung menurut jenis dan struktur tanah yang telah diuji di Laboratorium.

Tidak hanya itu, Universitas Chiang Mai juga melakukan penyuluhan kepada petani untuk membiasakan diri TIDAK MENGGUNAKAN PUPUK dalam menanam dan memelihara kopi. Mereka diajarkan pembuatan pupuk organik. Dengan dasar ini, Universitas Chiang Mai berupaya mendapatkan Sertifikasi Organik dan Rainforest.

Dari sisi perkembangan pengembangan kopi di wilayah dataran tinggi Thailand memang baru saja dimulai, tetapi dari sisi pendekatan strategis yang diambil Thailand cukup menjanjikan, dan pada titik tertentu juga membuat saya menjagi “eleng” atau “iri” terhadap apa yang didapatkan para petani kopi di Thailand. Petani kopi di Thailand benar-benar dibimbing secara profesional, ada penjelasan semua aspek secara ilmiah. Kalau seandainya saja Universitas Papua atau Universitas lainnya di Indonesia pernah punya niat dan kemauan untuk membantu para petani kopi di Tanah Papua, tentu saja ceritanya tidak mungkin sama dengan cerita sekarang.

Sekarang ini para petani kopi di Tanah Papua tidak tahu varietas kopi mana di tanam di daerah mana, tidak tahu segala-sesuatu tentang jenis, kandungan dan struktur tanah mereka, kami juga tidak tahu masa depan dari pengembangan kopi di Tanah Papua. Gubernur selalu menonjolkan dan membanggakan pengembangan Kopi dan Kakao di Tanah Papua, tetapi faktanya Bank Papua misalnya hanya sanggup membantu Kopi Toraja, tetapi Kopi Papua diabaikan dan diterlantarkan begitu saja. Jauh sekali sentuhan Universitas di Tanah Papua.

Dunia pendidikan di Tanah Papua masih jauh dari dunia usaha, bahkan tidak mengenal dunia usaha. Dunia Pendidikan di Tanah Papua masih berputar di tingkatan teori, belum melihat implementasi real di lapangan.

Kapan semua ini berubah? Kapan teladan dari Universitas Chiang Mai dipelajari dan diterapkan di Tanah Papua? Atau ini hanya sebuah mimpi yang taka akan pernah menjadi fakta?

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment