Biarawan Katolik Dibebaskan Setelah Sejam, Dikurung di Mobil Tahanan Polisi

Author : Benny Mawel, October 9, 2015 at 20:44:23 WP, Editor : dominggus

Jayapura, Jubi –Enam biarawan Katolik yang ditahan polisi dalam demontrasi damai menuntut penuntasan kasus penembakan empat siswa di Paniai 8 Desember 2015 sudah dilepas. Mereka dilepas setelah satu jam lebih berada di dalam truk tahanan polisi bersama demontran lain di depan Polsek Abepura.

“Kami dipulangkan setelah satu setegah jam berada dalam truk itu,”kata Bruder Yulianus Pawika OFM dalam jumpa pers bersama Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Papua, Forum Indepen Mahasiswa, Badan Esekutif Mahasiswa USTJ, Garda P, GMKI dan Dewan Adat Paniai di Kantor KontraS, Papua, Padang Bulan, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Jumat (9/10/2015).

Kata Pawika OFM, keterlibatan para frater dan biarawan kemarin berjumlah 18 orang. Menurut Ia, Keterlibatan mereka tidak ada maksud politik apapun, selain panggilan hati nurani atas kemanusiaan manusia Papua yang terus dibantai.
“Kami turun karena terpanggil. Fransiskan hadir di Papua pada 1936. Fransiskan datang karena manusia Papua, bukan karena Negara atau siapapun tetpai karena manusia Papua jadi ketika manusia dibunuh, manusia di pukul, kami merasa sangat terpukul,”katanya serius.

Terkait penangkapan itu, kata Pawika OFM, pihaknya sangat tidak terima sikap polisi yang sangat arogan. Polisi tidak melakukan komunikasi dengan pendemo. Polisi datang dengan mobil Dalmas masuk ke tempat pendemo berdiri tanpa pikir menabrak atau tidak.

“Polisi kemarin hampir tabrak. Kemarin, kamis hampir mati ditabrak. Apakah tidak bisa dialog?,”katanya.

Mewakili Ordo Agustinian, Fr. Florentinus Sedik OSA, yang turut terlibat dalam demontrasi mengatakan keterlibatan mereka dalam demontrasi suatu panggilan untuk mengingatkan pemerintah yang tidak peduli dengan hak korban penembakan.

“Kami turun karena nilai kemanusiaan korban penembakan yang mau dilupakan,”katanya serius.
Kata dia, keterlibatan mereka itu dari satu refleksi kehidupan di dalam biara. Kehidupan biara yang penuh dengan aturan dan doa namun tidak akan pernah menyelematkan manusia yang terus dikorbankan.

“Untuk siapa kita berdoa? Anak mudah dibunuh terus, 20 tahun ke depan tidak ada orang Papua ditanah ini.Tuhan pun tidak mengizinkan nyawa manusia dihilangkan paksa. Kami punya kewajiban untuk membicarakan itu,”tegasnya. (Mawel Benny)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment