Aktivis berharap Burung Cenderawasih tidak dijadikan “souvenir”

Senin, 4 Mei 2015 19:02 WIB, Pewarta: Alfian Rumagit, Aktivis berharap Burung Cenderawasih tidak dijadikan “souvenir”

Perempuan Papua pegiat lingkungan, Dian Yasmin Wasaraka. (Foto: Istimewa)
Perempuan Papua pegiat lingkungan, Dian Yasmin Wasaraka. (Foto: Istimewa)

Perempuan Papua pegiat lingkungan, Dian Yasmin Wasaraka. (Foto: Istimewa)

“Harapannya burung Cenderawasih tidak lagi diperdagangkan untuk dijadikan souvenir,” kata Dian Wasaraka, anggota FPPNG di Kota Jayapura, Papua.

Jayapura (Antara Papua) – Aktivis lingkungan dari Forum Peduli Port Numbay Green (FPPGN) Kota Jayapura, Provinsi Papua, mengharapkan burung Cenderawasih tidak lagi dijadikan “souvenir” atau buah tangan untuk turis, atau tamu bahkan pejabat yang berkunjung.

“Harapannya burung Cenderawasih tidak lagi diperdagangkan untuk dijadikan souvenir,” kata Dian Wasaraka, anggota FPPNG di Kota Jayapura, Papua, Senin.

Perempuan blesteran Papua Barat-Jawa itu menyampaikan hal tersebut karena prihatin dengan keberadaan burung Cenderawasih yang kian berkurang karena dijadikan “souvenir”.

Apalagi, dalam waktu dekat ini Presiden Joko Widodo dan rombongan akan berkunjung ke Papua yang tentunya akan disambut secara meriah oleh semua elemen masyarakat dan pemerintan setempat.

Sehingga menjadi perhatian khusus bagi FPPNG karena adanya kebiasaan penggunaan burung Cenderawasih sebagai mahkota untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke Papua.

“Presiden mau datang ke Papua itu hal yang baik, namun apakah kedatangannya akan disambut dengan cara yang sama? Apa ketika turun dari pesawat kemudian di kalungkan bunga hias, di sambut tari-tarian dan sorak sorai masyarakat yang bangga bahwa orang nomor satu di Indonesia datang ke negeri ini dan menjadikannya pantas untuk kembali dimahkotai Burung Cenderawasih,”

ujarnya.

Menurut dia, hal itu memang pantas karena Presiden Jokowi adalah kepala negara yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembangunan di Papua dan telah bersikap adil karena salah satu anak Papua telah duduk di kursi menteri.

Presiden Jokowi juga dinilai pandai merangkul kaum kecil dan dengan gaya blusukannya, mampu melihat secara langsung kondisi sosial ekonomi kaum ibu-ibu di pasar.

Juga mampu menunjukkan kepada Indonesia maupun dunia, bahwa Papua tidak ekstrem seperti yang ada dalam benak dunia luar, seperti asumsi tentang Papua yang selalu penuh dengan konflik dan tidak aman untuk berinvestasi, namun sebaliknya daerah yang penuh potensi.

“Namun apakah harus dimaknai dengan memberikan mahkota Cenderawasih? Presiden Jokowi sudah kali ketiga datang ke Papua, ini mau yang keempat, lalu apakah setiap datang harus diberi Cenderawasih? Jika seandainya dalam masa jabatannya datang 10 kali, berarti akan membawa pulang mahkota burung Cenderawasih sebanyak 10 buah, itu artinya Papua sudah kehilangan burung surganya sebanyak 10 ekor,”

katanya.

Dosen STIKOM Muhammadiyah Jayapura itu juga menambahkan bahwa populasi burung Cenderawasih semakin menipis di alam, jika dibandingkan dengan satwa yang dilindungi lainnya.

“Harimau Sumatera, Badak jawa, Komodo bisa di selamatkan lalu mengapa yang satu ini tidak bisa,” katanya dengan nada tanya.

Lebih lanjut, Dian Wasaraka yang pernah bekerja di Conservasi International (CI), menjelaskan bahwa burung Cenderawasih terdiri atas 13 genus yang mempunyai sekitar 43 spesies (jenis).

Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies Cenderawasih terbanyak. Diduga sekitar 30-an jenis Cenderawasih bisa ditemukan di Indonesia. 28 jenis diantaranya terdapat dan tinggal di pulau Papua.

“Namun kenyataanya meskipun saat ini Cenderawasih sudah dimasukkan dalam daftar merah (red list) IUCN juga tercantum dalam konvesi internasional tentang perdagangan flora dan Fauna CITES APPENDIX II,” katanya.

Pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan statusnya sebagai satwa yang dilindungi melalui UU nomor 5/1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan melalui Peraturan Pemerintah no 7/1999 tentang pengawetan satwa dan tumbuhan.

Namun nyatanya tetap tidak mampu melindunginya dari jurang kepunahan.

“Seluruh top leader di negeri ini harus mulai ikut peduli, tegakkan hukum dan aturan dengan benar, dan presiden sebagai panglima hukum harus memberi contoh dalam penegakan aturan ini. Solusinya kalau mau kasih souvenir untuk pejabat kan bisa menggunakan noken,” katanya.

Dia mengatakan Noken sudah dua tahun ini diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO bentuknyapun bagus dan dari bahan yang ramah lingkungan, karena terbuat dari bunga anggrek dan kulit pohon, atau patung dan ukiran dari Asmat yang sudah terkenal sejak lama dan menjadi koleksi banyak museum-museum dunia.

“Tentu Presiden Jokowi bisa memperkenalkan potensi budaya Papua pada dunia, seperti batu bacan yang dipopulerkan oleh SBY dulu, sekaligus membantu menggerakan industry kreatif rakyat dan ekonomi perempuan Papua,” katanya. (*)
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © 2015

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment