Pelajaran Pertama dari Program dan Presentasi di World Parks Congress 2014

Minta Permisi kepada Tua-Tua dan Masyarakat Adat yang Sudah Tiada dan Yang Ada Saat ini

Saya sudah laporkan di situs resmi KSU Baliem Arabica tentang apa saja yang didapatkan dari menghadiri Kongres dari Taman Sedunia di Sydney, Australia dari tanggal 12 – 19 November 2014. Dalam situs entrepreneur Papua ini saya mau sebutkan sejumlah keuntungan dari sisi bisnis dan entrepreneurship terkait dengan lingkungan hidup (alam) kita. Disebutkan dalam situs resmi kongres ini: www.worldparkscongress.org

Over 6000 participants from over 170 countries met at the IUCN World Parks Congress 2014 in Sydney, Australia. Acknowledging the traditional owners of the land where we met, we celebrated an enormous variety of inspiring ways of addressing the challenges facing the planet, through protected area approaches that respect and conserve nature, while benefitting human health and prosperity.  We recognized that rebalancing the relationship between human society and nature is essential, and that ecosystems and their variety of life fully support our existence, cultural and spiritual identity, economies and well-being.

Lebih dari enamribu peserta dari lebih dari 170 negara bertemu dalam kongres IUCN Kongres Taman Sedunia 2014 di Sydney Australia. Mengakui pemilik tradisional dari tanah di mana kami bertemu, kami rayakan cara-cara yang menginspirasi yang begitu banyak dalam menghadapi tantangan yang dihadapi planet, melalui pendekatan daerah terlindung yang menghargai dan mengkonservasi alam, sementara menguntungkan bagi kesehatan dan kemakmuran manusia. Kami mengakui menyeimbangkan kembali hubungan antara masyarakat manusia dan alam begitu penting, dan bahwa ekosistem dan varietas kehidupan mereka sepenuhnya mendukung keberlangsungan kita, identitas budaya dan rohani, ekonomi dan kebaikan hidup.

Setiap pembicaraan, sama dengan pernyataan di atas yang membuka “the Promise of Sydney 2014“, selalu menyampaikan “Permisi dan terimakasih kepada para pemilik tanah leluhur di mana kami berpijak dan ber-kumpul; yang sudah pergi maupun yang masih hidup, generasi lalu maupun generasi sekarang“. Ini sangat aneh tapi nyata. Saya sudah ikut dalam berbagai kegiatan, di dalam maupun di luar negeri. Baru-baru ini di Malaysia, yang bertopik lingkungan juga. Tetapi dari kesemuanya itu, pengakuan terhadap para tua-tua adat dan Masyarakat Adat dalam hal ini terjadi secara terang-terangan, terbuka, dan pertama-tama dalam setiap orang memulai pembicaraan mereka.

Saya hadir sebagai anggota dari salah satu kelompok Masyarakat Adat, tetapi saya hadir mewakili dunia usaha, yaitu Koperasi saya. Jadi, saya hadir dalam kapasitas yang ganda, sekaligus mewakili dunia usaha, tetapi sekaligus juga mewakili Masyarakat Adat Papua.

Saya penasaran, apa yang dikatakan oleh perusahaan besar seperti Google.com, Rio Tinto, dan lainnya dalam pertemuan ini. Apakah mereka memanggil dan meminta permisi kepada tua-tua adat dan masyarakat adat setempat juga? Ternyata mereka juga menggunakan bahasa yang sama.

Saya tidak mau berpanjang lebar, secara singkat saya mau katakan di sini, bahwa pengakuan terhadap eksistensi Masyarakat Adat sudah ada di seluruh muka bumi, di kalangan LSM, masyarakat adat sendiri, ataupun dunia usaha sudah ada dan sudah mendunia. Tinggal kita di tanah Papua tertinggal satu pertanyaan untuk kita jawab, “Apakah pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat, Bank Papua, Freeport Indonesia, perusahaan Kelapa Sawit dan Kakao, KSU Baliem Arabica dan perusahana besar-kecil semuanya, mengakui dan meminta permisi kepada para tua-tua, leluhur yang sudah mati dan tua-tua yang masih hidup sebelum memulai kegiatan di tanah Papua?”

Kalau tidak, pastilah kita harus mulai saat ini, sebelum Tanah Papua menjadi tandus gara-gara ulah kita manusia Papua modern.

Catat, ini baru pelajaran pertama, pelajaran lainnya saya susulkan

Facebook Comments

Share This Post

One Response to "Pelajaran Pertama dari Program dan Presentasi di World Parks Congress 2014"

Post Comment