Pelajaran Ketiga dari Program dan Presentasi di World Parks Congress 2014

Penekanan kepada “Sacred Sites” atau dalam istilah awam kita sebut di Papua sebagai “Tempat Keramat”, yang dalam bahasa Lani ialah “Kelonggon Me”

Sangat menarik memang, baru tahun 2000 ke atas ini masyarakat modern mengakui eksistensi dan pentingnya keberadaan “Kelonggon Me”, bagi masyarakat adat dan selanutnya secara umum bagi eksistensi umat manusia dan bagi eksistensi semua makhluk dan planet Bumi kita.

Ada dua film yang saya nonton di Sydney dalam acara ini. Film pertama menyajikan tempat keramat di suku-suku Aborigine Australia dan Masyarakat Adat di Hawai’i. Kasus pertama masyarakat di Hawai’i. Sudah terkenal nama Pearl Harbour, yang ada hubungannya dengan Patung McArthur di Ifar Gunung Sentani, Kabupaten Jayapura. Gen. McArthur punya komando pusat di Pearl Harbour, di mana terdapat basis Camp Militer dan beberapa pulau yang dulunya dijadikan sebagai pulau keramat telah dijadikan sebagai tempat uji-coba senjata-senjata yang mematikan. Sampai pulau-pulau di sana tertinggal debu, tidka ada tanaman satupun.

Beberapa tahun belakangan ini, Masyarakat Adat Hawai’i mulai mengkleim kembali tempat keramat mereka yang sudah menjadi debu itu, menanam kembali pepohonan dan rerumputan, mengundang kembali hujan turun, dan menghidupkan kembali situs-situs nenek-moyang mereka, tempat mereka beribadah dan tempat mereka berdoa untuk meminta apa saja.

Banyak orang ke sana, khususnya orang Hawai’i sendiri, dan menggunakan bahasa daerah mereka, menyampaikan doa-doa. Ada orang Kristen, ada orang Muslim, ada orand Hindu, dan Budha, ada Masyarakat Adat ke sana. Kepala Suku Danil dari Republik Altai juga pernah mengunjungi mereka.

Mereka berusaha bersama-sama untuk menghadirkan kembali tempat-tempat keramat kembali menjadi keramat, tidak menjadi pulau berdebu yang mengerikan turun-temurun tentang cerita Amerika Serikat pernah merebut Hawai’i dengan cara menghancurkan kerajaan Hawai’i dan menjadikannya sebagai tempat basis militer dan pelatihan militer serta ujicoba senjata dan peluru mematikan.

Cerita kedua berasal dari Aborogine di Australia di mana orang kulit putih sejak menginjakkan kakinya ke Benua Kangguru ini telah merobek-robek tatanan kehidupan, merusak alam, dan membahayakan kehidupan semesta. Banyak danau sakral, pohon sakral dan terutama sungai-sungai sakral disana dibangun Dam dan dibelokkan demi kepentingan pembangunan. Masyarakat Adat di sana sudah lama memprotes dan melawan, tetapi suara mereka dianggap sebagai “orang-orang zaman batu yang tidak mengerti tentang arti dan pentingnya pembangunan”.

Akhirnya apa yang terjadi?

Ratusan tahun kemudian, para masyarakat modern itu kembali meminta kepada Masyarakat Adat untuk membenahi kembali tempat-tempat keramat itu. Kata mereka, “Tempat keramat penting sekali buat keselamatan manusia ke depan”.

Ada peristiwa menarik yang saya saksikan dalam pertunjukkan film tempat sakral pertama ini, yaitu ada pertanyaan dari peserta, seorang dari dunia barat bertanya kepada Kepala Suku Danil dari Altai,

Apakah tempat-tempat yang sudah dirusakkan dapat dipulihkan kembali dan dapatkan kita kembalikan kekeramatan tempat dimaksud seperti dulu kala lagi?

Si pembuat film, yaitu seorang Amerika menjawab dengan antusias, dengan memberikan contoh di Hawai’i dan menyatakan ada harapan sangat besar untuk pemulihan kembali. Mendengar itu, dengan cepat dan garang, sang Kepala Suku Aborogin memotong,

No, no, no! Sorry, No! You can’t destroy and then expect something good comes out from the destruction you have brought into the sites. You should note that once it is destroyed, then it is destroyed, forever. You can do whatever you wan’t for your to feel not guilty anymore, but you must bear in mind, the spiritual damage that has been done cannot be restored. This is spiritual, not physical, not emotional, not psychological.

Arti kasarnya barang yang kita bicara ini bukan barang fisik, emosi atau psikologi, tetapi menyangkut barang rohani. Begitu terjadi kerusakan, maka dia terus rusak, kapan-pun. Tidak bisa dikembalikan seperti sedia-kala lagi.

Artikel berikut masih sebagai pelajaran ketiga akan disusul berikutnya.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment