Pelajaran Ketiga dari Program dan Presentasi di World Parks Congress 2014 (1)

Penekanan kepada “Sacred Sites” atau dalam istilah awam kita sebut di Papua sebagai “Tempat Keramat”, yang dalam bahasa Lani ialah “Kelonggon Me”

Saya sudah cerita tentang situs keramat di Hawai’i dan Aborigin dari film pertama tentang “Kelonggon Me”. Sekarang saya mau cerita tentang film kedua dari padanya, yaitu dari Masyarakat Adat di Amerika Serikat dan Masyarkat Adat Altai, dari Kepala Suku Danil yang sudah saya singgung berkali-kali dalam laporan ini.

Masyarakat Adat di Amerika Serikat yang satu ini mengalami masalah besar karena tempat keramat meraka, yang dulunya nenek-moyang mereka jadikan sebagai tempat bersemedi dan bersembahyang kini telah menjadi Dam. Tepat batu keramat sudah tenggelam di dalam Dam yang mengairi pertanian wilayah secara keseluruhan.

Ada sedikit menarik, di mana waktu-waktu tertentu danau buatan manusia ini sering mengering, dan pada saat dia mengering, batu keramat ini sering nampak. Pada saat dia kelihatan, maka Masyarakat Adat setempat sering berlarian masuk ke tengah danau buatan itu dan melakukan sembahyang di sana sampai larut malam, bahkan sampai pagi. Mereka hanya punya waktu sepanjang danau ini masih surut, pada saat dia pasang, mereka harus kehilangan batu keramat ini dari pemandangan dan sentuhan mereka. Dari waktu ke waktu mereka hanya berdoa kapan batu keramat atau lebih tepat gua batu tempat keramat mereka akan timbul lagi, untuk kemudian mereka bergegas masuk untuk berdoa.

Pada saat air danau buatan ini tenggelam, ada yang masuk bergegas dengan perahu, dan kalau perahu penuh, ada yang malah berenang masuk dengan cepat-cepat, menghiraukan dinginnya air.

Mereka sering berdoa di pinggir Dam ini berdoa kapan danua akan mengering.

Kelompok kedua dalam film kedua ini tidak lain adalah suku dari Bapak Kepala Suku/ Tua Adat Danil, yaitu di Republik Altai, perbatasan antara Rusia dan Republik Rakyat China. Di perbatasan itu terdapat proyek raksasa untuk mengalirkan gas dari Rusia menuju ke China. Proyek ini melewati tanah leluhur dan tanah keramat yang dianggap “keramat” oleh masyarakat setempat.

Pemerintah China dan pemerintah Rusia sudah menandatangani kontrak untuk mengalirkan gas dari Rusia menuju ke China. Proyek ini sangat ambisius dan dibanggakan oleh kedua pemerintahan. Kita sudah dengar banyak masalah muncul belakangan ini di politik Eropa, di mana Masyarakat Ekonomi Eropa bermasalah dengan Rusia gara-gara beberapa wilayah bekas Uni Soviet didukung oleh Uni Eropa untuk merdeka. Yang terakhir kasus Ukraina. Perkembangan ini memperkuat hubungan China – Rusia dan proyek ini didorong dengan rasa bangga angara kedua negarea. Tetapi mereka lupa bahwa mereka sedang melintasi wilayah Masyarakat Adat di mana Danil ialah Tetua Adatnya.

Danil mendirikan pusat-pusat sembahyang dan pusat rekoneksi antara para Masyarakat Adat di seluruh dunia. Danil sudah kunjungi Masyarakat Adat di Amerika Serikat, dan Australia. Seperti saya laporkan sebelumnya, dia juga mengundang saya dan Kepala Suku saya mengunjungi mereka. Yang dilakukan Danil ialah “menghubungkan tali persahabatan dan kerjasama secara rohani”. Penekanan ini menarik, dan akan saya tulis artikel “aspek rohani dan konservasi secara terpisah.”

Kedua cerita dalam film kedua ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa pemerintah selalu berpendirian apa yang dilakukannya membanggakan dan harus dilaksanakan. Pemerintah selalu bersikap “Apa yang dibuat pemerintah ialah terbaik untuk rakyat!” Dengan pandangan ini, mereka bangun dam di mana-mana, pipa di mana-mana, menggali gunung di mana-mana, menjadikan gunung menjadi lembah. Kita tahu apa yang sudah terjadi dengan Grasberg dan Ertsberg, yang dulunya disebut Gunung Grasberg dan Gunung Ertsberg, tetapi sekarang lebit tepat disebut Lembah Grasberg dan Lembah Ertsberg. Kita juga sudah tahu Sungai-sungai sekitar pertambangan PT Freeport Indonesia dan sekitar LNG Tangguh yang dulunya jernih telah berubah warna menjadi warna Kopi Susu Cokelat atau warna Coffee Mix atau kopi Torabika. Makanya kita kenal ada sungai di Timika bernama “Kali Kopi”, bukan?

Gubernur Papua dan Papua Barat dan semua pelaku pembangunan di Tanah Papua, mulai dari sekarang kita patut ingat dan berhati-hati. Tidak menjadikan “ekonomi-sebagai-panglimna”, tetapi “kehidupan-sebagai-panglima”, tidak menggunakan slogan “welfare-state” tetapi slogan yang tepat ialah “welbeing-state”. Kemakmuran haruslah kita ganti dengan “keharmonisan”, “pembangunan” kita ganti dengan “pengembangan”. Semoga…!

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment