Pelajaran Kedua dari Program dan Presentasi di World Parks Congress 2014

Pengakuan Bahwa Masyarakat Adat Penting dalam Pelestarian Alam Semesta

Saya sudah sebutkan pelajaran pertama dari program dan presentasi di World Parks Congress di Olympic Park, Sydned, Australia tanggal 12-19 November 2014 ialah “Pengakuan kepada para tua-tua dan leluhur masyarakat adat di mana acara berlangsung, dengan mengucapkan pengakuan dan ucapan terimakasih kepada mereka sebelum memulai mengucapkan apapun yang mereka mau sampaikan.” Pelajaran Kedua tidak jauh berbeda dari itu, tetapi cukup menarik, yaitu “Pengakuan bahwa Masyarakat Adat dan upaya-upaya konservasi di seluruh muka Bumi tidak dapat dipisahkan”. Dengan kata lain, berbicara tentang konservasi di dunia harus dan pada saat yang sama berbicara tentang Masyarakat Adat. Agak aneh memang kalau saya ikuti dalam kegiatan ini. Dulu, sudah ratusan tahun lamanya, Masyarakat Adat dilihat sebagai masalah, dan sebagai bagian dari masalah. Apa saja yang dibuat masyarakat adat dianggap sebagai persoalan. Sekarang orang yang sama, yang dulunya menganggap kehadiran masyarakat adat sebagai masalah itu kini menyatakan bahwa kehadiran Masyarakat Adat sangat penting dalam upaya pelestarian alam.

Dulu banyak Masyarakat Adat diusir dari tanah leluhur mereka dengan alasan wilayah tersebut telah ditetapkan sebagai Taman Nasional yang terlindungi oleh Negara. Dengan alasan Taman Nasional, maka tumbuhan dan hewan serta benda-benda alam di sekitar dilindungi, tetapi manusia yang sejak dulu-kala ada di sekitar wilayah itu diusir dari tanah leluhur mereka. Kasus-kasus ini banyak terjadi di Indonesia (Borneo, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Papua). Mereka menganggap Masyarakat Adat tidak tahu memelihara lingkungan. Alasan yang sering dipakai ialah masyarakat adat mempraktekkan penebangan hutan secara berpindah-pindak (nomadik) dan juga sekaligus melakukan pembakaran hutan sehingga ditakutkan akan merusak lingkungan.

Ada juga contoh kasus di Afrika, di mana hewan-hewan dilindungi dengan baik, sementara manusia dihalau keluar dari tanah leluhur mereka.

Kasus seperti ini sepertinya sudah mulai dibalik. Manusia modern di dunia barat sudah sadar, bahwa justru Masyarakat Adat-lah yang selama ini memelihara alam dan dunia serta planet Bumi ini sebagai tempat yang bagus untuk manusia, tempat untuk bisa dihidupi manusia dan hewan dan tumbuhan. Mereka sadar bahwa tanpa Masyarakat Adat maka Bumi ini tidak sama seperti yang ada sekarang.

Menurut saya pribadi, kesadaran ini sudah terlambat. Bumi sudah dirusak. Alam sudah hancur. Hukum Alam sudah dilanggar sampai habis-habisan.

Pada waktu presentasi tentang salah satu pulau penyembahan Masyarakat Adat di Hawai’i yang dijadikan oleh Amerika Serikat sebagai tempat latihan militer dan percobaan bom di era Perang Dunia Kedua, yang menyebabkan tanah dan semua kehidupan menjadi abu sama sekali, dan kemudian kini masyarakat adat setempat sedang memulihkan tempat penyemahan mereka terlihat sebuah peristiwa yang menarik buat saya. Semua orang Amerika yang hadir menyatakan

Walaupun tempat ini dibom sampai habis-habisan, walaupun tempat ini telah menjadi debu, tanpa kehidupan sama-sekali, walaupun hancur-luluh, saya masih datang ke sana dengan tujuan memulihkan tempat moyang saya, untuk menjadikannya tempat penyembahan kembali. Begitu menginjakkan kaki di pinggir pulau ini dari perahu, saya sudah merasakan betapa kuatnya kekuatan roh yang hadir di situ. Saya terbawa oleh kekuatan itu, ke dalam penyembahan yang dalam.

Apa tanggapan Kepala Suku dari Republik Altai dan Bush Heritage Australia? Mereka langsung, tanpa tunggu-tunggu, tanpa ragu, tanpa takut menyatakan,

Anda tidak dapat katakan setelah Anda bom, setelah Anda gali habus, setelah Anda rusakkan, setelah Anda bangun ini dan itu, kemudian menyatakan “roh masih ada di sana. Yang Anda rusakkan, memang dia rusak, rusak untuk selama-lamanya. Kita tidak bicara barang lain. Kita bicara barang roh dan rohani. Dia kalau Anda rusakkan, itu sudah rusak. Yang Anda rasakan itu hanyalah perasaan Anda, roh Anda, hati Anda yang memberikan reaksi terhadap tanah dan pulau itu. Roh sudah dihilangkan. Mereka sudah pindah ke pulau, tanah, gunung, sungai lain.

Terlihat pandangan yang sangat kontras. Maksud perbedaan ini ialah bahwa manusia modern masih mengharapkan pemulihan kembali apa yang telah mereka rusakkan atas nama pembangunan, modernisasi dan seterusnya. Mereka masih berharap gunung-gunung yang mereka jadikan lembah, seperti di tempat penambangan PT Freeport Indonesia, pulau yang mereka jadikan tanah debu seperti di Hawai’i tadi, sungai yang mereka potong kiri-kanan dan bangun dam, seperti di Jawa, Kalimantan dan Australia dapat dipulihkan kembali atas bantuan dan kerjassama dengan Masyarakat Adat. Akan tetapi Masyarakat Adat membalas harapan itu dengan menyatakan, “Yang kalian sudah rusakkan, dan hancurkan sudah tidak dapat dipulihkan kembali. Tinggal yang masih belum dirusak saja yang bisa kita harapkan untuk kita pulihkan dan benahi untuk menudian kita pakai sebagai modal dasar upaya pelestarian Bumi.”

Saya sungguh berharap, kiranya pengakuan terhadap pentingnya eksistensi MADAT di dunia sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya pelestarian Bumi ini disadari oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dan pemerintan Indonesia sehingga upaya-upaya yang berujung kepada penghancuran MADAT dari Papua Barat diakhiri dan dibalik dengan kebijakan-kebijakan yang bertujuan melindungi MADAT Papua dengan segenap atribut, nilai dan tradisinya karena dengan demikian secara otomatis akan membantu melindungi Bumi Cenderawasih sebagai tempat paru-paru dunia kedua di dunia dan sebagai tempat Glacier terbsesar kedua di dunia secara baik dan lestari. Saya berharap kiranya pemerintah Indonesia membuka mata melihat perkembangan sekarang bahwa pembangunan yang harus dilakukan di Tanah Papua ialah pembanguan Masyarakat Adat dan Manusia Papua, yang kemudian akan melindungi dan memelihara Bumi Cenderawasih, yang dibutuhkan oleh manusia sedunia sebagai paru-paru dunia kedua di planet Bumi kita.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment