Paradigma Berpikir “Alam” dan “Manusia”: Apakah terpisah?

Saya sudah tulis kemarin satu entry tentang Pelajaran Keempat dari World Parks Congress 2014 di Sydney, Australia, yaitu bahwa “Ada pengakuan Masyarakat Modern bahwa Alam Sungguh berbicara kepada manusia”. Sekarang saya mau jelaskan tanggapan saya terhadap paradigma berpikir yang kelihatannya sangat maju, tetapi sebenarnya sangat tidak maju, alias terbelakang, terbelakang bukan dari sisi modernisasi, tetapi dari sisi “kemanusiaan manusia sebagai salah satu dari komunitas makhluk semesta”.

Sejah modernisasi dimulai, atau bermula, maka yang menjadi pusat kehidupan ialah “manusia” itu sendiri. Kita lihat di era sebelum modernisasi, misalnya dalam MADAT di Papua, kita tahun manusia bukanlah pusat dari kehidupan, tetapi makhluk roh yang menjadi pusatnya. Di era sebelum modernisasi di dunia barat, yang menjadi pusat kehidupan manusia ialah teokrasi, kemudian aristokrasi. Kita kenal teori hukum alam, teori alamiah, dan filsafat yang berkembang di dunia barat menempatkan pusat kehidupan kepada pusat-pusat kekuasaan. Di era modern, manusia dipandang sebagai pusat dari semuanya.

Karena kehidupan berpusat kepada “manusia”, maka manusia mengelompokkan dirinya dari makhluk lain. Dalam pengelompokkan itu, maka alam semesta, flora dan fauna dilihatnya sebagai sumberdaya. Bahkan manusia sendiripun digolong-golongkan, dari manusia pertama, kedua dan ketiga, dan negara mereka juga terbagi menjadi pertama, kedua dan ketiga (negara berkembang). Dengan demikian “keberpusatan manusia” seperti dimaksudkan di atas lebih dipersempit kepada “manusia modern” atau “manusia barat”. Dengan kata lain, manusia modern menjadi pusat kehidupan, yaitu pusat peradaban.

Akibatnya, manusia lain dibedakan dari diri mereka, makhluk lain dibedakan dari diri mereka. Tidak usah heran kalau mereka menganggap kita ada ras tertentu yang dipangan setengah manusia, ada yang dipandang tidak sepantasnya memimpin dunia. Lebih pantas lagi, kalau masyarakat yang sama memandang “alam” dan “manusia” ialah dua pihak yang terpisah. Dengan kata lain, pantas saja kalau mereka menganggap “Alam terpisah dari manusia, sehingga Alam berbicara kepada manusia”.

Saya sudah singgung mengapa situs web www.natureisspeaking.org yang menyatakan bahwa “Alam sudah sedang berbicara kepada manusia”. Tanpa disadari, pernyataan ini sebenarnya, secara fundamental didasarkan atas paradigma berpikir bahwa alam dan manusia itu terpisah, berbeda.

Pemikiran ini tentu saja secara hakiki salah fatal, karena manusia secara hakiki ialah alam itu sendiri dan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Manusia, hewan, tumbuhan, benda-benda yang ada di alam ini, bersama-sama adalah alam itu sendiri.

Saya harap barangsiapa punya hatinurani dapat memahami apa yang saya maksudkan di sini.

 

Facebook Comments

Share This Post

One Response to "Paradigma Berpikir “Alam” dan “Manusia”: Apakah terpisah?"

Post Comment