Mundardjito : Daerah Belum Mampu Urus Peninggalan Bersejarah

Penulis : Aprila Wayar on December 1, 2014 at 21:29:24 WP, Jubi/Aprila

Jayapura, Jubi – Prof. Dr. Mundardjito, anggota Tim Ahli Nasional Cagar Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat melihat berbagai penemuan situs bersejarah di Papua mengatakan, daerah belum mampu mengurus peninggalan bersejarah.

“Kalau tidak diurus dari sekarang siapa lagi yang akan mengurus situs-situs ini. Dulu ditangani Pemerintah Pusat tetapi setelah ada otonomi daerah, diserahkan kepada daerah walau sebenarnya daerah sendiri belum cukup mampu, belum siap sebetulnya. Padahal kekayaan budayanya luar biasa,” kata Mundardjito kepada wartawan di Balai Arkeologi Jayapura, Papua, Sabtu (29/11)

Lanjut peneliti dunia ini, arkeolog dunia saat ini tidak bisa tinggal lagi di atas menara gading karena di bawah, banyak buldoser yang sudah merusak berbagai situs peninggalan sejarah setiap tahun.

“Hal ini juga sekarang terjadi di Papua seperti yang terjadi di Jakarta yang kota tua, Bandung, Yogyakarta dan lain sebagainya,” tuturnya lagi.

Menurut Mundardjito, situasi Papua saat ini, arkeolog harus memilih, situs mana yang akan dikerjakan karena tenaga dan biaya tidak banyak. Lokasi juga tidak mudah dijangkau dengan biaya ekstra besar. Berbeda sekali dengan kondisi di Jawa yang jauh lebih mudah.

“Ada satu daerah di Papua sini yang saya lupa nama tempatnya. Penutur bahasanya tinggal dua orang, yang satu sudah meninggal beberapa waktu lalu dan penuturnya tinggal satu. Padahal harus dilestarikan,” katanya lagi.

Melestarikan menurut Mundardjito adalah melindungi secara fisik dan hukum serta mengembangkannya dalam penelitian agar bermanfaat bagi masyarakat, pendidikan, pengetahuan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk sosialisasi, siapa lagi kalau bukan media yang membantu menyebarkan informasi berbagai temuan yang kami peroleh di lapangan.

“Bahasa yang digunakan peneliti terlalu detail dan rumit. Masyarakat akan mudah memahami setelah ditulis media,” tuturnya.

Masih di tempat yang sama, Erlin Novita Idje Djami dari Balai Arkeologi Jayapura mengatakan penting bagi semua pihak, terlebih khusus stake holder agar melihat pentingnya melestarikan dan menjadikan situs Gunung Srobu sebagai lokasi cagar budaya.

“Lokasi ini juga digunakan masyarakat setempat sebagai tempat mencari kulit kerang yang selanjutnya dijadikan bahan kapur sirih yang bisa dijual atas desakan ekonomi. Untuk itu, perlu diambil langkah yang tepat dalam melestarikan gunung yang diperkirakan telah ada kehidupan pada 330 sebelum Masehi,” kata Erlin. (Aprila Wayar)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment