Mahkota Wolem Eri: Siapa yang Berhak Mengenakan dan Dikenakan?

Mahkota Wolem Eri, dalam bahasa Indonesia disebut “Mahkota Burung Cenderawasih”, tetapi yang sebenarnya ialah “Mahkota bangsa dan Tanah Papua”, atau “Mahkota Tanah Surgawi” merupakan sebuah benda budaya sekaligus hewan terlindungi yang selama ini dijadikan sebagai alat pertunjukan diri oleh orang Papua dan alat persahabatan bagi orang non-Papua.

Pertanyaan pokok dalam pemikiran saya terkait dengan “nilai-nilai dan filsafat serta roh” yang terkandung di dalam mahkota dimaksud. Pertanyaan paling mudah ialah, “Apakah saya sebagai orang Papua berhak atau berkewajiban atau dapat mengenakan mahkota kemegahan orang Jawa, orang Bali, orang Sumatera, dll.?” “Mengapa makhota tanah dan bangsa Papua menjadi murahan begitu?

Tentu saya tahu siapa-siapa saja yang menjual murah hargadiri bangsa Papua selama ini. Semua orang tahu siapa saja menganggap mahkota ini sebagai sebuah benda ritual belaka dalam rangka menyambut tamu asing (maaf, asing di sini saya maksudkan asing secara adat dan budaya, bukan asing secara politik). Begitu tamu asing turun, mereka disambut dengan “piring adat Papua” dan “mahkota Papua”: baik tumpuan dan pucuk kemegahan di serahkan serta-merta kepada “orang asing”. Sungguh memalukan, menghinakan diri sendiri, memalukan!

Pada saat saya ikuti World Parks Congress 2014 di Olympic Park, Sydney, Australia di Bulan November 2014 disinggung juga betapa masyarakat modern telah mengeksploitir dan bahkan menyalahartikan dan menyalahgunakan berbagai benda-benda budaya, tradisi dan tempat-tempat keramat demi kepentingan politik dan modernisasi, yang berakibat kepada kehancuran budaya dan tradisi MADAT, yang akibatnya ialah kehancuran lingkungan alam sekitar dan pucuknya kehancuran kehidupan di planet Bumi.

Mereka menghubungkan kaitan antara kerusakan alam dengan kerusakan budaya dan tradisi, kerusakan alam dengan eksistensi dan pemusnahan MADAT dan menyimpulkan bahwa proses modernisasi telah mengikis, memodifikasi, bahkan menyalah-artikan dan menyalah-gunakan berbagai benda budaya, tradisi dan ritual yang sebenarnya penting untuk keberlangsungan kehidupan manusia dan semua makhluk di planet Bumi, tetapi karena kesalahan pandangan dan tindakan manusia sehingga musibah demi musibah telah menimpa kita semua.

Presiden R.I. Joko Widodo sebenarnya telah berkunjung ke Banjarnegara, Jawa Tengah, di mana telah terjadi musibah tanah longsor yang menewaskan puluhan orang. Seharusnya Jokowi tahu bahwa longsor ini terjadi karena telah terjadi salah urus antara keseimbangan alam dengan kegiatan manusia. Seharusnya Presiden R.I. tahu bahwa untuk menyematkan mahkota di kepalanya, telah dibunuh satu makhluk sakral dan makhluk terlindungi di Pulau New Guinea, satu-satunya di planet Bumi, yaitu Wolem (burung Cenderawasih). Seharusnya Presiden MELARANG KERAS memamerkan kejahatan manusia membunuh hewan sakral seperti itu, apalagi untuk dikenakan kepada dirinya yang adalah “bukan orang Papua secara sosial-budaya”.

Seharusnya orang Papua sadar dan paham, bahwa Mahkota Tanah dan Bangsa Papua bukanlah alat kekerabatan kegiatan sosial seperti perayaan Natal dan penyambutan, bukan juga alat ekonomi seperti selama ini diperdagangkan, apalagi bukan alat politik sehingga orang Papua harus merasa wajib bunuh Wolem (burung Cenderawasih) hanya untuk menghibur orang asing (entah Presiden atau Panglima, atau siapapun).

Orang Papua harus tahu siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak mengenakan makhota itu. Itu bukan topi, itu bukan piala, itu bukan barang dagangan. Itu “mahkota”, dan itu “Mahkotanya orang Papua”, bukan siapa-siapa.

Orang Papua juga harus bertanya kepada diri sendiri, mengapa mereka merasa berkewajiban membunuh “Wolem” dan merasa harus “mengenakannya kepada orang asing” hanya karena mereka pejabat Negara Indonesia?

Orang Papua harus bertanya kepada Wolem sendiri dan kepada nenek-moyang bangsa Papua apakah yang saya lakukan hari ini membawa berkat ataukah kutuk ke atas tanah ini? Yang jelas secara global para pembunuh burung ini harus dihukum berat karena dia-lah pembunuh hewan terlindungi alam semesta, yang tidak ada di pulau lain di muka Bumi; lalu dia yang bersedia dipakaikan mahkota dari burung terlindungi ini juga patut diusut demi hukum, KALAU negara ini benar-benar negara hukum.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment