KTT G20: Negara Miskin Pasifik jadi Prioritas Pendaan Perubahan Iklim

Penulis : Yuliana Lantipo on November 20, 2014 at 03:58:50 WP, Sumber: TabloidJubi.com

Pulau-pulau di Pasifik mulai terancam hilang dengan naiknya permukaan air laut. (Ist)

Jayapura, Jubi – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang baru rampung akhir pekan lalu di Australia, memprioritaskan program pendanaan perubahan iklim untuk membantu negara-negara di kawasan Pasifik.

Anggaran tersebut akan digunakan untuk program-program pencegahan terhadap dampak perubahan iklim seperti pembuatan tembok pantai untuk mencegah naiknya permukaan air laut ke negara-negara pulau di Pasifik.

Berdasarkan laporan Scoop-Independent News, Perdana Menteri Selandia Baru, John Key menjanjikan dana $ 3 juta untuk dan akan fokus di Pasifik dalam pendanaan perubahan iklim. Kemudian, dana PBB bertujuan mendukung negara-negara berkembang untuk membatasi atau mengurangi emisi gas rumah kaca serta beradaptasi pada dampak perubahan iklim.

Bantuan juga diberikan oleh Caritas Aotearoa Selandia Baru. Yakni lembaga Waligereja Keadilan, Perdamaian dan Pembangunan Selandia Baru. Digabung dengan Mahitahi – Relawan Overseas Katolik.

Direktur Caritas Julianne Hickey mengatakan, dukungan langsung kepada mitranya di kawasan Pasifik diberikan dengan tambahan anggaran sebesar $ 200.000 yang akan dianggarkan pada 2015 nanti.

“Selandia Baru juga harus memberikan kontribusi untuk respon multilateral yang dikoordinasikan oleh masyarakat internasional, tetangga kita di Pasifik tidak bisa menunggu dana internasional sepenuhnya dan berjalan,” kata Julianne Hickey seperti dikutip Scoop-Independent News, Rabu (19/11).

Penelitian Caritas tahun ini menyorot masyarakat di kawasan Pasifik yang tengah menghaapi ancaman besar. Harus menahan naiknya permukaan laut dan erosi pantai dengan seawalls darurat, yang dibangun dari kayu dan batu, kerang dan karang; atau relokasi sementara atau permanen untuk melarikan diri genangan laut dan air tanah salinasi.

“Kami bertemu perempuan dari dataran rendah Popua, di Tonga. Mereka menggabungkan karang dan tanah dalam truk, mencoba untuk menjaga rumah mereka dari air. Pihak berwenang mengatakan kepada mereka ‘Jika Anda ingin merebut kembali tanah, maka rebut itu kembali,” kata Hickey.

“Di antara orang-orang yang berbicara dengan kami, tidak ada banyak bukti dana perubahan iklim itu sampai ke orang-orang yang membutuhkannya. Jadi, kami menyambut prioritas Selandia Baru di Pasifik atas pembiayaan perubahan iklim umum. Namun, kita perlu memastikan untuk prioritaskan proyek-proyek untuk yang paling miskin dan rentan di wilayah kami. Seperti wanita Popua untuk melakukan apa yang mereka bisa dengan apa yang mereka punya,” kata Hickey.

Hickey mengimbau, Selandia Baru dan dunia perlu berbuat lebih banyak untuk mengurangi emisi, beradaptasi dengan perubahan yang sedang berlangsung, dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang tidak pasti, masa depan yang sudah memukul orang miskin jadi paling sulit.”

Caritas Aotearoa Selandia Baru adalah gabungan dari lembaga Waligereja Keadilan, Perdamaian dan Pembangunan Selandia Baru dengan Mahitahi – Relawan Overseas Katolik.

Organisasi ini bekerja untuk untuk dunia bebas dari kemiskinan dan ketidakadilan melalui pengembangan masyarakat, advokasi, pendidikan, dan bantuan darurat.

Caritas Aotearoa New Zealand adalah anggota dari Caritas Internationalis, konfederasi 165 bantuan Katolik, pembangunan dan keadilan sosial lembaga yang aktif di lebih dari 200 negara dan wilayah. (Yuliana Lantipo)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment