Ebiet G. Ade: Masih Ada Waktu

Reaksi terhadap Bencana buatan Manusia di Tanah Papua

Untuk ke sekian ratus, mungkin juga sekian ribu kalinya saya dengarkan lagu ini, berjudul, “Masih Ada Waktu”, oleh penyanyi Country versi Indonesia yang sampai hari ini belum tergantikan ini. Selama seminggu belakangan saya baca koran, berita online dan dengar di Televisi di Indonesia bahwa bencana sudah melanda Indonesia, sudah melanda Tanah Papua juga.

Ada bencana murni “Suara Alam”, ada bencana “Jawaban Alam terhadap Manusia”, dan ada pula Bencana Manusia atas dirinya sendiri. Pembunuhan yang terjadi di Ilaga, pembunuhan di Paniai beberapa hari lalu, kematian di Jayapura karena tertimpa longsoran tanah, dan juga yang terbesar di Banjarnegara, Jawa Tengah membuat kita semakin mendalam merenungkan apa yang dinyanyikan Penyanyi Country Indonesia ini.

Mas Ebid membenarkan bahwa alam dan Allah sedang bicara kepada manusia lewat malapetaka yang menimpa manusia. Saya mau tambahkan, Adat juga sedang bicara kepada kita sekalian, lewat berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita.

Pembunuhan di Ilaga dan di Paniai sungguh di luar peri kemanusiaan. Keduanya ialah contoh betapa manusia, yang konon menyebut dirinya bernegara-bangsa, beradab dan demokratis itu tidak ber-adat. Mungkin juga orang demokrasi dan beradab itu tidak tahu adat. Bisa saya sebut orang beradab tidak tentu tahu adat, apalagi tunduk kepada adat.

Saya secara pribadi tunduk kepada tiga hukum utama dalam kehidupan di muka Bumi: yaitu hukum Allah, hukum alam, dan hukum adat. Ya, hukum adat ada setelah hukum alam, dan hukum alam ada setelah hukum Allah. Lalu di mana hukum manusia? Well, dalam lagu Ebiet ini tidak menyebutkan hukum manusia. Lagu ini menyebutkan berbagai bencana yang melanda kehidupan manusia. Dan Ebiet meminta kita untuk bertanya kepada alam dan kepada Tuhan. Tetapi beliau lebih menekankan “kontemplasi” pribadi terhadap fenomena kehidupan.

Saya juga akui ada hukum manusia, tetapi hukum manusia menjadi ternodai oleh kepentingan-kepentingan manusia sesaat, terkait kepentingan politik, ekonomi dan sosial yang kebanyakan tidak ada kaitannya dengan kepentingan hidup, apalagi kepentingan alam dan adat, apalagi kepentingan Allah.

Memang betul, hukum manusia disusun untuk kepentingan manusia, entah apapun kepentingan itu, tetapi kelemahan hukum manusia ialah pertama-tama ia memisahkan diri dari alam dan adat, dan dari Tuhan. Dengan demikian semua hukum yang dibuatnya tidak mempertimbangkan, apalagi melibatkan ketiga pemangku hukum mutlak ini. Akibatnya pada saat terjadi penegakkan hukum alam-hukum ini, terpaksa manusia beserta dengan hukum-hukumnya harus tunduk, pasrah, menjerit, berkabung, bertanya…. dan sebagainya. Untung hukum alam masih memberi kita tersisah untuk berbenah diri, seperti kata Ebiet. Kita masih diberi waktu. Tetapi saat hukum Allah berlaku, waktu pengampunan sudah berlalu, tidak akan ada waktu lagi untuk merenungkan dan bertobat.

Sebelum waktu itu tiba, kita patut mempertimbangkan sekian ribu kali sebelum berpikir dan bertindak untuk mengakhiri nyawa sesama manusia. Kita harus menjadi manusia demokratis dan beradab dalam tingkah-laku kita, bukan lagi sekedar kata-kata dan khotbah di televisi. Entah itu atas nama pembangunan, atas nama agama, atas nama negara, atas nama bangsa, atas nama pribadi, atas nama kelompok, atas nama apapun…. Kita harus tahu adat. Kalau tidak begitu, hukum alam, hukum adat dan hukum Allah akan selalu menimpa kita. Banyak contoh air mata mengalir bulan ini, bukan? Hukum Alam, Hukum Adat dan Hukum Allah akan menimpa siapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja, secara langsung atau tidak langsung, memperhambahakn dirinya kepada hukum buatannya dan melanggar ketiga hukum mutlak ini. Siapapun yang melanggarnya atas nama apapun, maka ketiga hukum akan tertimpa kepada dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, bangsanya sendiri, negaranya sendiri.

Oleh karena itu, saya rasa secara pribadi tidaklah salah kalau menjelang Hari Natal 2014 ini, saya mengajak semua orang Papua secara khusus, untuk tunduk kepada hukum alam, hukum adat dan hukum Allah. Belajar untuk bertindak “tahu adat”, sehingga bangsa lain di dunia menjadi disadarkan, bahwa siapapun yang ada di atas tanah Papua haruslah bertindak “tahu adat”, dan “tahu adat” berarti tahu dan tunduk kepada hukum alam, dan sekaligus tahu dan tunduk kepada hukum Allah.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment