DAS: Jual Tanah = Jual Harga Diri

Author : Benny Mawel, November 20, 2014 at 22:23:45 WP, Editor : Victor Mambor

epura, Jubi – Dewan Adat Sentani (DAS) memvonis Ondofolo yang menjual tanah adat sama dengan menjual harga diri. Ondofolo melepaskan hak kesulungan untuk mengatur kehidupan rakyatnya ke tangan orang lain.

Menurut DAS, orang yang membeli akan menjadi pemilik tanah. Pemilik itu yang akan balik melihat penjual tanah tidak punya harga diri. Ia akan merasa menjadi penguasa dan balik menginjak-injak harga diri penjual, Ondofolo dan rakyatnya.

“Jual tanah sama saja jual harga diri. Kita dihargai karena tanah ada,” kata Sekretaris DAS, Philip Deda kepada Jubi di kantor DAS, di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (18/11) lalu.

Ondofolo yang menjual harga diri itu, menurut Deda, melanggar sumpah janji jabatan. Sumpah jabatan menjamin kehidupan masyarakat kecil di wilayah kekuasaannya. Rakyat harus aman dan damai sejahtera.

“Janda, duda, yatim piatu, pelihara dan lindungi. Kampung bagaikan bayi. Jagalah kampung seperti bayi,” kata Deda.
Penjualan itu walaupun terdesak kebutuhan, menurut Deda, kepentingan masyarakat umum harus menjadi ukuran dalam mengambil keputusan menjual atau tidaknya tanah adat kepada pihak lain.

“Akibat keperluan pribadi menyengsarakan masyarakat ini tidak boleh terjadi. Namun ini sudah terjadi di seluruh wilayah Sentani. Sebagian besar tanah adat wilayah Sentani ini sudah di jual demi keperluan sendiri,” katanya.
Akibat penjualan tanah itu mulai dirasakan oleh masyarakat adat Sentani. Konflik kecil-kecilan mulai muncul di masyarakat adat. Bahkan masyarakat berkelahi menghabisi nyawa sesamanya sendiri.

“Ketika masyarakat berkelahi, Ondofolo lari meningalkan masyarakat,” ujarnya.

Selain konflik, orang asli mulai terpinggirkan dari wilayah pemukiman penduduk kota. Orang asli mulai membangun pemukiman ke wilayah pinggiran kota, danau dan pantai.

“Ini tada-tanda marginalisasi,” kata Nelson Ondy, tokoh pemuda Sentani kepada Jubi di ruang dan waktu yang sama.
“Kalau tanda-tanda ini tidak diantisipasi, masyarakat asli akan terus terusir jauh dari tanah adatnya sendiri. Orang asli menjadi penonton sejati di negerinya sendiri karena kehilangan hak miliknya,” lanjut Ondy. (Mawel Benny)

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment