Dapatkah “Entrepreneurship” Papua dikembangkan di Pulau Jawa?: Ini Cerita Kegagalan Saya, Jhon Yonathan Kwano

Banyak orang cenderung menulis keberhasilan “entrepreneurship”, tetapi saya mau kasih tahu pengalaman pahit yang saya alami selama setahun (2013-2014) mengembangkan usaha “entrepreneur” di pulau Jawa.

Seperti saya sebutkan dalam cerita sebelumnya tentang larangan saya kembangkan usaha di Jakarta Selatani pada tahun 2012, cerita sekarang bukanya karena dilarang oleh orang Jawa atau Pemda di pulau Jawa, tetapi justru karena “ketidak-mampuan” orang Papua sendiri dan “ketiadaan dukungan dari Pemeritnah Provinsi Papua, Bank Papua dan sumber-sumber ekonomi yang ada di Tanah Papua yang selama ini bicara tentang pembangunan dan pengembangan ekonomi.

Setelah ditolak di Jakarta Selatan, saya tidak mundur dan pulang ke Tanah leluhur dan menetap di Papua. Setahun kemudian, setelah berdoa dan berpuasa berulang-ulang, saya beranikan diri sekali lagi. Waktu saya pulang itu, saya baca berita, buku, nonton Televisi dan suatu waktu saya dengar pesan langsung dari Bapak Bob Sadono yang menyatakan,

“Siapa yang mau terjun di dunia entrepreneurship, harus siap gagal 99 kali. Kalau merencanakan keberhasilan, sebaiknya jangan terjun ke dunia entrepreneurship. Kita harus targetkan gagal 99 kali, dan akhirnya menang sekali. Dan kemenangan sekali itu untuk selama-lamanya.”

Saya tidak catat tanggal dan bulan teteapi siaran itu disampaikan oleh TV-One. Pewawancara kemudian diantar oleh Bapak Bob Sadono menuju ke tempat-tempat usahanya. Bob Sadono, seperti selalunya, mengenakan celana pendek, baju lengan pendek dan tanpa alas kaki.

Mendengar kata-kata itu, saya kuatkan tekat menuju ke Pulau Jawa kembali, tetapi kali ini ke Jawa Tengah, tepatnya ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat ini lebih dikenal oleh orang Papua, dan Jogja juga lebih mengenal orang Papua. Dengan motivasi Pak Bob dan dengan latar-belakang saling-mengenal ini, saya berpikir lebih optimis. Walaupun begitu, saya masih punya pemikiran untuk kemungkinan gagal.

Dan faktanya sekarang saya sedang ceritakan kegagalan saya membangun entrepreneurship Papua di Jogja.

Ini yang sudah saya lakukan sejak tahun lalu:

  1. Saya sudah sewa gedung, tempat tinggal dan tempat usaha, dengan uang sekitar Rp.40 juta per tahun;
  2. Saya sudah bangun sebuah gedung di atas rumah yang saya sewa berukuran 5 x 10 meter, sebuah gazebo yang dari sisi bangunan pantas menjadi tempat minum kopi dan warung makan. Gazebo menelan biaya Rp.60 juta.
  3. Saya sudah memberikan arahan dan masukan dan dorongkan kepada orang Papua yang ada di Jogja untuk terlibat dan membantu
  4. Saya sudah mengundang untuk rapat-rapat demi pengembangan entrepreneurship
  5. Saya sudah ikut kegiatan dan kursus yang terkait dengan Netpreneurshop dan Enterpreneurship
  6. Saya sudah ikut kursus cupping, barista, dan raosting
  7. Saya sudah beli alat-alat untuk menyajikan kopi
  8. Saya sudah beli software accounting
  9. Saya sudah sampaikan program dan rencana kerja saya ke Bank Papua Cabang Yogyakarta, kebetulan Bank Papua ada di Jogja saat ini
  10. Saya sudah bangun website papuamart.com, papuacoffees.com, baliemarabica.com dan puluhan situs pendukung lainnya dalma rangka memperkenalkan usaha saya
  11. Saya sudah keluar-masuk Media Sosial, bahkan sampai membayar layanan iklannya.

Apa hasilnya?

Hasilnaya mengecewakan, income dari penghasilan selama ini belum juga menyamai biaya yang saya keluarkan.

Apa sebabnya?

Persoalan pertama yang saya temukan ialah terutama saya dan kami orang Papua pada umumnya belum memiliki mentalitas “entrepreneurship” sehingga kami membelanjakan lebih banyak daripada “generate” income. Orang Papua dikenal kaya di Indonesia bukan karena dia tahu cari uang, tetapi karena dia masih di zaman batu dalam hal penggunaan uang. Uang belum mengenal orang Papua dan orang Papua juga belum mengenal uang secara mendarang-daging, sehingga yang ada di saku bisa mengalir keluar tak terduga kapan, untuk apa dan berapa. Jadi selama ini saya mengeluarkan lebih banyak daripada men-“generate”.

Kekurangan kedua saya harus lemparkan kepada para pengurus yang saya tugaskan untuk membantu saya juga orang Papua jadi, ceritanya ini orang Papua yang tidak tahu dan tidak punya “roh entrepreneurship” membimbing orang Papua lain yang jauh lebih belum siap terjun ke dunia usaha. Pekerjaan anak-anak sekolah yang saya pekerjakan di Jogja ini tiap harinya bicara Papua Merdeka, tiap hari pikir demo NKRI, tiap hari baca berita politik Papua Merdeka, tiap duduk mengomentari kejelakan NKRI, keburukan Presiden Indonesia, kejelekan orang Jawa dan orang Indonesia, jadi di dalam otak anak-anak Papua ini telah tertanam bibit “kebencian” dan “penolakan” terhadap NKRI dan orang Jawa sehingga menyuruh mereka untuk “menyalami dengan sopan”, menerima dan membalas SMS atau telepon atau email dari para konsumen, dan ikut perintah para konsumen menjadi sangat sulit dilaksanakan karena mereka merasa para konsumen ini bagian dari “para mush mereka”.

Menanggapi mentalitas dan sikap ini, sudah berulang-kali saya tekankan untuk “matikan” dan “hilangkan” hal-hal negativ yang ada dalam hidup kita karena ia mempengaruhi mentalitas, jiwa dan nyawa kita sebuagai insan manusia, dan dampaknya ialah kesehatan tubuh kita juga bisa terganggu. Akan tetapi tentu saja ini masih sulit. Tidak berarti saya menyerah, tetapi saya harus terus berjuang.

Di atas itu, Bank Papua juga berlagak cuek dan malas tahu dengan kehadiran salah satu badan usaha binaannya sendiri, yang selama ini ia pamerkan ke muka orang sebagai hasil binaannya. Padahal saya mau jujur katakan, saya belum merasakan “Apa manfaat Bank Papua buat usaha-usaha saya di Pulau Jawa selama setahun ini. Itu jelas dan itu pasti! Saya tidak bicara mewakili orang lain, tetapi mewakili pengalaman hidup selama setahun di Pulau Jawa, berusaha membangun usaha sendiri sampai hari ini.”

Dalam hal ini saya tidak mengharapkan uluran tangan atau bantuan dari Pemda Papua atau Bank Papua, karena mentalitas mengharapkan bantuan itu sudah tidak ada di dalam hati dan otak dan pikiran saya. Yang kita perluu sebagai Badan Usaha Asli Papua ialah “Pinjaman Lunak” sebagai bukti kebijakan pemerintah Indonesia dalam kerangka Otsus untuk membangun orang Papua seperti ribuan kali diperdengarkan di berbagai media dan kesempatan dan tempat. Kalau tidak bisa Pinjaman Lunak, yang bisa juga pinjaman jangka pendek, katakanlah 1-5 tahun atau 10 tahun.

Tetapi saya tidak mengajarkan kepada semua orang Papua untuk berharap kepada Bank Papua, karena Bank Papua juga punya kepentingan. Selain itu sayang sekali Bank Papua, saya harus terus terang katakan walaupun sangat saya sayangkan, “tidak punya roh keberpihakan” kepada usaha-usaha orang Papua. Memang ada wacana, ada pemikiran, ada pemberitaan, ada dokumen yang menyatakan keberpihakan Bank Papua ke pengusaha orang Papua, tetapi “roh keberpihakan” tidak ada. KSU Baliem Arabica sudah mendapatkan Memo Langsung dari Gubernur Papua, Lukas Enembe dalam beberapa minggu setelah beliau dilantik menjadi Gubernur. Isi Memonya katakan, “Supaya Bank Papua Mendukung usaha anak Papua seperti ini secara masif dan berkelanjutan.” Dua kata “masif” dan “berkelanjutan” ini sama sekali tidak ditangkap dan tidak pernah ditindak-lanjuti Bank Papua. Bukan karena Bank Papua tidak paham kedua kata ini. Bukan juga karena Bank Papua tidak mau. Tetapi saya secara pribadi dan subyektif, setelah mengalami dan menyaksikan, berkesimpulan bahwa “roh keberpihakan” seperti yang dimiliki Gubernur Papua itu Nihil dalam diri dan jiwa Bank Papua sebagai sebuah institusi. Kalau sebuah institusi sudah tidak punya “roh keberpihakan”, maka tinggal Anda sendiri bayangkan bagaimana sikap para Kepala Cabang dan para Pegawai Bank Papua terhadap para orang Papua pada umumnya maupun kepada pengusaha Papua secara khusus.

Bagaimana caranya “roh keberpihakan” itu dapat dilihat? Nanti dalam aritkel lain.

Artikel berikutnya saya akan tulis lanjutan cerita kegagalan ini dengan memberikan contoh cerita yang jelas tentang tiga alasan ini, yang menjelaskan paling tidak yang menyebabkan saya menilai usaha saya di pulau Jawa sejauh 1 tahun ini masih gagal. Yang jelas saya belum menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, bukan?

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment