Dapatkah “Entrepreneurship” Papua dikembangkan di Pulau Jawa?

Saya Gagal Karena Saya Saya Sudah Mencobanya. Kalau Belum Mencobanya saya pasti belum gagal.

Semua orang setuju dan selalu akui, “Pengalaman adalah guru terbaik”, dan itulah yang telah saya alami selama setahun ini.  Dulu saya-lah orang yang suka berpikir dan berkomentar bahwa “berbisnis” atau lebih tepat “entrepreneurship” itu tidak terlalu sulit. Dari dalam otak saya, benak saya menjelaskan betapa mudahnya orang “berjualan”. Saya saksikan mama saya sendiri penjual sayur-mayur, kelagi, singkong di Pasar Sentani, jadi saya tahu berbisnis itu tidak-lah sulit. Saya juga menyaksikan orang Makassar dan orang Jawa menjalankan usaha di Kampung Halaman saya di Tanah Papua, begitu bangun gedung, bikin jendela, beli barang, masukkan barang, ya duduk tunggu orang datang beli. Dan semakin banyak orang datang beli, semakin mereka menjadi kaya. Pertama mereka punya kios dengan gedung darurat, lama-lama mereka bangun rumah permanen, salah satu kamarnya dijadikan kios. Sebelumnya kios itulah rumah tinggal mereka, sekarang dibuat kamar sendiri untuk kios. Lama-lama gedung kios, bukan lagi kios, toko dibangun tersendiri. Lama-lama toko yang sama di bangun di berbagai tempat.

Bukan hanya toko, mereka lalu mengembangkan usaha menjadi peternak ayam potong, bos taxi dan truk, dan pemilik banyak sekli rumah-rumah kontrakan dan rumah sewa.

Dari saya memahami begitu sederhana, dan mudah diikuti.

Walaupn begitu, hai orang Papua, jangan salah. Kakak saya namanya Isaskar Kenenal, dia satu-satunya orang Papua yang saya tahu yang sudah berhasil menjadi “entrepreneur murni” di Kota Wamena. Dia tidak bersekolah tinggi, hanya tamatan Sekolah Dasar di kampung saya. Tetapi sepulangnya ke Wamena, dia mengembangkan usaha kiosnya. Tetapi pengalaman Kakak Kenela menjadi pelajaran buat saya, “Sebelum berutmbuh, kuncupnya selalu dipetik”, banyak kebutuhan yang datang silih berganti, akibatnya usahanya bangkrut.

Bukan hanya karena kebutuhan, anak-anak yang dia lahirkan-pun tidak membantunya dalam usahanya. Mereka malahan “mencuri” uang simpanan hasil usaha ayah mereka untuk digunakan bersama pacar mereka, berfoya-foya, mabuk-mabukan, keluar-masuk hotel di Kota Wamena.

Dengan melihat pengalaman Kaka saya ini, saya bertanya, “Apakah saya sanggup? Sedangkan kakak saya saja yang sudah mencobanya sudah gagal”? Pertanyaan ini membuat saya merasa pesimis. Tetapi saya menguatakan tekad.

Saya katakan kepada diri saya, “Modal saya ialah tekad dan dengan tekad itu saya nekat, apapun yang terjadi. Kalau orang Jawa bisa datang ke Tanah Papua dan menjadi kayaraya, kenapa orang Papua tidak mencoba mencari keberuntungan ke Pulau Jawa?” Lanjut saya lagi, “Kenapa Tanah Papua bisa menjadikan orang Jawa menjadi kaya-raya, lalu kenapa Tanah Jawa tidak bisa membalasnya buat saya?”

Dengan nekad dan tekat, saya-pun berangkat ke pulau Jawa. Dengan tujuan mengadu nasib. Tepat Juli 2013, tanggal 20, saya tiba di pulau Jawa, untuk mencari tempat usaha dan membangun usaha dari Nol.

Memang saya ditugaskan oleh KSU Baliem Arabica untuk mengembangkan usaha di luar Tanah Papua, tetapi saya sendiri juga punya nekad dan tekat, karena itu saya untuk kedua kalinya ke pulau Jawa, setelah kesempatan pertama ditolak oleh Pegawai Pemerintah Kota Jakarta Selatan.

Tetapi hasilnya seperti saya katakan dalam artikel tentang “kegagalan saya” sebelumnya, bahwa saya gagal karena ada tiga faktor yang tidak mendukung usaha saya: yaitu kesiapan kami orang Papua untuk terjun ke dunia bisnis, petugas yang ditugaskan tidak efektif mendukung, dan terakhir karena pihak Pemerintah Daerah Papua dan Bank Papua tidak berpihak kepada entrepreneurship yang saya kembangkan di pulau Jawa.

Sebagai kelanjutan penjelasannya sekarang ini saya mau nyatakan bahwa kegagalan yang saya alami ialah pengalaman terbaik buat saya, karena pengalaman ini telah mengajarkan kepada saya untuk menyusun strategi di tahun 2015 nanti. Saya sudah punya kesimpulan dan keputusan tindak lanjut yang harus saya lakukan pada tahun depan, berdasarkan pelajaran dari kegagalan yang telah saya alami.

Saya masih punya harapan, bahwa pada tahun depan saya harus berjuang. Saya bandingkan dengan orang-orang Jawa dan Makassar yang pernah ada di Tanah Leluhur saya dan pernah jatuh-bangun, bertahun-tahun lamanya. Saya berkesimpulan bahwa pengalaman kegagalan saya selama setahun ini tidak harus menjadikan saya kecewa dan membubarkan diri dari perjalanan maha berat ini. Saya harus bangkit dan terus berjalan, dengan iman dan percaya kepada Tuhan sebagai satu-satunya pihak yang menentukan nasib ini, dan kedua kepada semangat dan usaha yang harus saya bangun sejak sekarang untuk melangkah memajukan usaha di Tanah Jawa.

 

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment