Apakah orang Papua bisa Kembangkan “Entrepreneur” di Pulau Jawa?

Pertanyaan ini saya tanyakan kepada diri saya sendiri, bukan dari hasil mimpi, tetapi dari fakta dan pengalaman pribadi yang saya alami di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan, lebih tepat lagi di Walikota Jakarta Selatani, pada tanggal 11 November 2012.

Pada waktu itu saya sebagai petugas yang baru diangkat oleh KSU Baliem Arabica sebagai Manager Unit Sales & Marketing dari Koperasi dengan penuh semangat dan optimisme mengupayakan pembukaan distributor Kopi Papua di Jakarta Selatan. Kenapa Jakarta Selatan? Karena Kantor Perwakilan Provinsi Papua ada di sana, dan tempat ini juga cukup kami kenal dari beberapa kali perjalanan sebelumnya dan baru-baru ini saat ada kegiatan gereja dan sekolah.

Kami sudah punya tempat kontrakan, kami sudah mendapatkan persetujuan dari 10 orang lokal dekat kami kontrak, sudah ada surat dari RT dan RW, bahkan dari Lurah-pun kami sudah punya. Alasan mereka mendukung sangat jelas, mereka suka Kopi Papua setelah mereka rasakan kopinya. Apalagi orang Papua sendiri yang menjual Kopi Papua, mereka sangat senang dan mendukung.

Apa yang terjadi di Kantor Walikota Jakarta Selatan sangat mengecewakan. Kata petugas di sana untuk pertama kalinya katanya Walikotanya keluar ada di Singapura. Kujungan kedua katanya Walikotanya masih ada di Singapura. Kunjungan ketiga katanya ada masyarakat setempat yang keberatan. Kami mintakan “Siapa yang keberatan?” tetapi mereka tidak berikan nama. Setelah itupun saya pulang ke tempat kontrakan dan konsultasikan hal ini ke ketua RT dan RW, dan semua pihak di tempat kontrakan kaget kokh ada orang setempat yang keberatan. Lalu mereka putuskan kita rapatkan, tanyakan sekitar dan kumpul infomrasi selama satu minggu.

Seminggu kemudian ditemukan bahwa semua masyarakat sekitar tidak satupuan yang berkebaratan, apalagi menolak kehadiran kami. Kata mereka, “Kalian kan tidak jualan kue, nasi campur, jua indomie, yaitu sembako dan jualan yang dijual oleh orang lokal. Kalian jual produk dari Papua sendiri, jadi kalian harus diterima di sini” Tetapi rupanya pandangan orang di Kantor Walikota Jakarta Selatan tidak seluas itu. Mereka tetap melihat kami sebagai orang asing, orang luar, orang pendatang yang masuk ke Pulau Jawa, masuk ke Jakarta, menutup mata-pencaharian orang Jawa, orang Jakarta.

Saat kami berkunjung ke lima kalinya, saya secara pribadi cukup “dongkol” melihat perilaku para pegawai negeri sipil di kantor Walikota. Begitu saya masuk, saya langsung bilang, “Pak, kami akan terbuka dengan lapang dada menerima kalau alasannya ialah kami masuk ke kandang Anda, dan dengan demikian menutup peluang usaha dari masyarakat setempat”, kalau itu lebih tepat sebagai pendapat pribadi Anda daripada tolak ke masyarakat di RT dan RW, kami semua sudah rapat dan ternyata tidak ada seorangpun yang menolak kami.

Mendengar itu, pak oknum PNS ini mukanya marah, dan dia bilang, “Ini lahan orang Pak John, ini tempat orang Pak, jadi kalau Anda mau usaha, silahkan usaha aja di Papua sana, di sini udah penuh, malah banyak orang udah di pinggir jalan.” Saya secara pribadi setiap kali pasti memberi sedekah atau apalah namanya kepada hampir semua pengemis yang ada di pulau Jawa. Kalau saya menetap di Jawa pasti banyak yang akan saya berikan. Itupun kalau alasannya banyak pengemis. Kalau alasannya saya menutup jalan bagi pengusaha setempat, maka saya dianggap sebagai orang asing, sebagai orang non-WNI. Kalau begitu kenapa banyak perusahaan asing berkantor Pusat di Jakarta Selatan? Mengapa beri mereka izin, kami yang dianggapnya orang asing juga tapi tidak diberikan?

Dengan menyesal terpaksa rencana pembukaan Kantor Perwakilan KSU BAliem Arabica di Jakarta batal dilakukan. Saya tinggalkan tempat kontrakan saya, dan pulang ke Papua, tanah leluhur saya, tanah tumpah darah saya, tanah ke mana sang PNS itu suruh saya kembali kepadanya. Semonga anah ini, Tanah leluhurku, Tanah Papua mengerti keluh-kesah saya ini, memberikan jalan keluar kepada usaha-usaha yang saya geluti, yaitu usaha pengembangan Ekonomi Kerakyatan ala Papua, dan PAPUAmart.com sebagia Pusat Perbelanjaan Online Masyarakat Papua. Semoga Kopi Papua tetap berkenan dan enak di hati dan lidah sekalian penikmat kopi, di manapun Anda berada. Semoga pengalaman ini hanya saya sendiri yang alami, yang berikut dari saya tidak mengalami riawayat menyedihakn yang sama.

 

Facebook Comments

Share This Post

3 Responses to "Apakah orang Papua bisa Kembangkan “Entrepreneur” di Pulau Jawa?"

  1. Setelah sekian tahun berada di pulau Jawa, ada tiga sisi yang saya alami: (1) pertama memang pada umumnya masyarakat non-Papua tidak percaya ada orang Papua benar-benar menjadi entrepreneur, tetapi (2) kedua akhirnya mereka meneripa realitas bahwa memang kami patut mendapatkan ruang untuk ber-wirausaha di pulau Jawa. (3) ketiga,semua orang di Indonesia tahu dan mengakui bahwa tanah Papua itu kayaraya dan orang yang berasal dari Tanah Papua juga secara otomatis sudah kaya dari alamnya, jadi kalau ada orang Papua yang berwirausaha, itu menjadi hal aneh, tanya mereka “Orang udah kaya kok cari duit?” akibatnya mereka jadi tidak percaya, ini apakah benar-benar cari duit atau cari lain?

    Reply

Post Comment