3 Desa Adat di Bali

Minggu, 1 April 2012

KOMPAS.com – Hampir semua desa-desa di Bali bisa disebut sebagai desa adat yang kental dengan pelaksanaan ritual adat dan agama. Masing-masing desa memiliki klian adat (semacam ketua adat). Desa-desa seperti ini masih banyak ditemukan di Bali.

Namun, jika menyebut desa adat di Bali, maka orang-orang di Bali akan langsung teringat pada tiga desa berikut ini. Desa-desa ini dihuni oleh kaum Bali Mula atau Bali Asli. Beberapa penduduk Bali, kadang menyebutnya dengan Bali Aga. Para Bali Mula merupakan orang-orang yang pertama kali mendiami Pulau Bali.

Mereka menghuni Pulau Bali jauh sebelum orang-orang Jawa bermigrasi ke Pulau Bali. Awalnya mereka memiliki kepercayaan animisme. Agama Hindu yang dibawa dari Pulau Jawa diperkirakan baru masuk ke Bali dan berkembang secara perlahan-lahan pada abad antara kedua sampai kedelapan masehi.

Sampai kini, Bali Mula masih bermukim di Pulau Bali dan memberikan kekayaan tersendiri akan kebudayaan Bali. Ciri khas paling menonjol untuk membedakan Bali Mula dengan orang Bali pendatang adalah dari upacara kematiannya.

Bali Jawa (disebut juga Bali Arya), yang merupakan keturunan dari pendatang orang-orang Jawa di masa Majapahit dan kerajaan Jawa sebelumnya, melaksanakan upacara kematian dengan cara dibakar. Sementara Bali Mula melakukan upacara dengan cara dikubur.

Tertarik mengenali lebih dalam mengenai tradisi para Bali Mula? Berikut tiga desa adat yang seringkali didatangi turis mancanegara untuk mengenal lebih dekat budaya Bali asli yang masih kental dijalankan hingga saat ini.

Desa Tenganan. Desa ini terletak di Kabupaten Karangasem. Sangat dekat dengan Pantai Candi Dasa. Perjalanan menuju desa ini sangat mudah dan bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari selatan Bali.

Keunikan desa ini adalah ketatnya masyarakat setempat dalam melindungi dan melestarikan hutan adat. Mereka memiliki awig-awig (hukum atau aturan adat) yang mengatur pengelolaan hutan termasuk pelarangan menebang pohon.

Penduduk Desa Tenganan sudah terbiasa berinteraksi langsung dengan pengunjung dan menjelaskan tradisi mereka. Pengunjung pun dapat masuk ke dalam rumah untuk melihat arsitektur khas Bali termasuk filosofinya.

Selain itu, penduduk setempat adalan seniman-seniman handal. Mereka terbiasa menenun sendiri kain gringsing yang legendaris dan hanya dibuat di desa ini.

Desa ini terkenal sebagai obyek wisata budaya bagi turis asing. Biasanya setelah mampir ke desa ini, para turis melanjutkan perjalanan ke Pantai Candi Dasa yang cantik.

Desa Trunyan. Jika lebih senang berpetualang, bisa mengunjungi Desa Trunyan di Kintamani, Kabupaten Bangli. Letaknya berada di Danau Batur. Untuk mencapai desa ini, Anda harus naik perahu menuju Trunyan dengan menyeberangi Danau Batur.

Ciri khas keunikan desa ini adalah upacara kematiannya yang berbeda dengan tempat lain di Bali. Jenazah di desa ini tidak dikubur. Melainkan diletakkan begitu saja di area kuburan, yaitu di bawah pohon kemenyan. Anehnya, walau pengunjung bisa melihat dengan jelas tengkorak-tengkorak manusia, tak tercium bau dari tempat jenazah.

Tak heran, desa ini paling diincar turis untuk mengenal tradisi upacara kematiannya yang unik. Biasanya, selain mengunjungi Desa Trunyan, turis juga akan bersantai di sekitar pinggir Danau Batur atau mendaki Gunung Batur.

Desa Panglipuran. Desa yang satu ini kalah tenar dibanding Desa Trunyan dan Desa Tenganan. Desa yang terletak di Kabupaten Bangli ini perlu menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Ubud, Gianyar.

Jika Anda mampir ke desa ini, maka bersiaplah terheran karena sangat jarang turis domestik yang berwisata ke Desa Panglipuran. Sebaliknya, turis asing terutama usia lanjut usia banyak yang mendatangi Desa Panglipuran.

Keunikan desa ini adalah tata desa yang begitu rapi dan cantik. Bukan sekedar arsitektur khas Bali yang memang unik, tetapi rumah-rumah di desa ini diatur seragam. Pengunjung seakan terlempar ke dimensi lain dengan rumah-rumah berpagar sama hingga berpintu sama.

Rumah-rumah ini tertata di kanan dan kiri jalan utama. Jalan utama berbatu selaras dengan pintu atap berbatu. Jalanan ini menanjak ke atas dan membagi desa ke tiga bagian sesuai konsep Tri Hita Karana (hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan).

Saat Anda berjalan di jalan ini, Anda seakan-akan sedang melakukan sebuah perjalanan spiritual. Ya, di ujung jalan itu, tepat di paling atas adalah Pura Penataran sebagai tempat paling suci dan tempat sembahyang para penduduk setempat.

Tak hanya arsitekturnya yang khas, penduduk Desa Panglipuran sangat ramah. Mereka tak segan-segan menawari pengunjung untuk mampir dan masuk ke dalam rumah. Di dalam, Anda bisa berfoto-foto dan melihat langsung dapur yang masih menggunakan kayu bakar. Beberapa rumah juga menjual aneka suvenir hasil karya sendiri.

Facebook Comments

Share This Post

Post Comment